Aku Cinta Diriku

Indri Savitri, M.Psi
25 Nopember 2008 / 07-Sep-2010

1Sudah menjadi tanggung jawab profesional seorang Psikolog untuk memfasilitasi ‘curhat’ klien-kliennya. Tapi kali ini bukanlah klien yang saya hadapi, melainkan seorang sahabat lama yang mendesak mengadakan sesi ‘curhat’ secara mendadak. Sahabat saya, sebutlah namanya Ambar, langsung membuka cerita tentang kekhawatirannya terhadap bentuk tubuh yang ia miliki. Saya cukup terperangah mendengar hal ini karena dalam kesehariannya Ambar selalu tampil ceria.  Untuk ukuran wanita usia pertengahan 30, Ambar tidaklah gemuk atau mengalami obesitas.  Tubuhnya memang sintal, ada bagian-bagian seperti perut, pinggul, dan dada yang agak membesar. Over all, Ambar tetap terlihat cantik walau ia adalah seorang ibu dengan tiga orang anak. Namun sebaliknya, di dalam pikirannya Ambar merasa gemuk, tidak menarik, dan sama sekali tidak cantik.

“Setelah melahirkan anak pertama, gue gak pernah PeDe lagi tampil ‘apa adanya’ di depan suami gue”

“What?!” pekik suara saya tertahan menanggapi ungkapannya.

“Iya....gue gak mau suami gue tahu tentang tubuh gue. Sekarang gue kepikiran terus, dia pasti akan selingkuh dengan perempuan muda yang lebih menarik. Dia pasti gak cinta  lagi”

“Kamu yakin suamimu berselingkuh, dalam arti ada bukti-bukti otentiknya? Memang suamimu pernah protes tentang keadaan tubuhmu?” tanya saya penasaran.

“Belum ada bukti sih, dan dia juga ga pernah protes. Tetapi gue yakin dia pasti akan mencari perempuan lain yang lebih menarik!”

AHA! Apa yang dialami Ambar merupakan hal yang umum dialami wanita.  Proses kehidupan, dimana wanita beranjak dewasa, menikah, dan memiliki keturunan tentunya membawa pengaruh tersendiri.  Boleh jadi ada percampuran perasaan antara love and hate ketika seiring dengan berjalannya kehidupan, terjadi pula perubahan-perubahan pada tubuh mereka. Di satu sisi, timbul  perasaan bahagia karena memiliki pasangan idaman dan anak yang lucu. Namun di sisi lain, ada perasaan marah atau kecewa ketika tubuh berubah melar, payudara turun, atau perut membuncit. Dampak dari perasaan negatif ini sangat mungkin berujung pada degradasi (penurunan) nilai terhadap citra diri wanita.

Citra Diri & Body Image

2Citra terhadap tubuh yang melibatkan perasaan-perasaan terhadap tubuh, dan pikiran-pikiran tentang tubuh dikenal dengan istilah body image. Dengan kata lain, body image adalah seperti apa wanita melihat keadaan tubuhnya, serta bagaimana perasaan wanita terhadap keadaan tubuhnya tersebut. Banyak wanita terobsesi menilai body image-nya, mungkin karena terprovokasi kesan ideal body image yang dibentuk media massa yaitu wanita cantik yang langsing, berkulit putih, dan berambut lurus panjang. Segala metode dan produk dicoba untuk mewujudkan citra wanita yang ideal.

Perkembangan media tidak bisa disalahkan 100% sebagai penyebab munculnya citra ideal tertentu, dan jelas hal ini perlu disikapi secara bijak. Para wanita harus menyadari bahwa abad 21 adalah masa pembentukkan image sehingga besar kemungkinan yang mereka lihat di media adalah sesuatu yang semu atau ilusi. Sebuah kenyataan bahwa untuk tampil sempurna sebagai model sampul sebuah majalah dibutuhkan hampir satu lusin tim penata rias, penata rambut, penata busana, penata cahaya, dan penata gaya. Intinya, kecantikan sempurna yang ada di media merupakan suatu rekaan yang sangat sulit untuk diusahakan di kehidupan nyata sehari-hari. Sayangnya hal ini seringkali luput dari perhatian banyak wanita.

3Pada kondisi yang ekstrim, seseorang dengan body image negatif akan mengalami distorsi dalam menilai realitas. Informasi yang ada di pikirannya tentang tubuhnya akan jauh lebih buruk daripada kenyataan. Dampak psikologisnya adalah perasaan tidak puas yang mendalam sehingga berujung pada ketidakbahagiaan. Kemudian timbul perasaan selalu serba salah menempatkan diri di antara orang lain. Kondisi ini jelas melelahkan karena wanita menjadi tidak bisa menikmati hidupnya, dan juga terhambat dalam memberikan kontribusi produktif bagi diri dan lingkungan. 

4Kondisi tersebut kurang lebih yang dialami oleh Ambar, sahabat saya yang membuka pertemuan kita di artikel ini. Ambar merasa tubuhnya sama sekali tidak menarik. Ia hanya mempercayai apa yang ia lihat, tanpa mau menerima penilaian orang lain terhadap keadaan tubuhnya. Padahal orang lain justru menilai keadaan tubuh Ambar secara positif. Kasus Ambar memang masih termasuk tahap ringan karena belum melakukan upaya-upaya yang luar biasa berlebihan untuk menjaga penampilan tubuh. Namun tentu Ambar (dan juga banyak wanita lain dengan kasus serupa) membutuhkan bantuan untuk bisa melihat diri secara lebih positif dan menghargai karunia yang telah dimilikinya. Wanita dengan body image negatif perlu segera dibantu agar penilaian terhadpa citra diri mereka tidak sempat berkembang mempengaruhi produktivitasnya sehari-hari.

Be Positive!

5Membangun body image yang positif - itulah langkah yang perlu dilakukan oleh wanita agar tumbuh menjadi pribadi yang tangguh. Kesadaran terhadap sisi positif yang kita miliki akan membuat diri kita lebih nyaman dalam menjalani kehidupan. Sejumlah tips di bawah ini dapat dicoba:

  • Bersahabatlah dengan cermin.  Lihatlah diri Anda di cermin, renungkanlah kalimat pertama yang spontan muncul di benak Anda.  Jika kalimat pertama yang spontan muncul memiliki muatan negatif, pejamkan mata Anda sambil menarik nafas yang dalam lalu tataplah cermin sekali lagi sambil mensyukuri bagian tubuh yang Anda senangi. Misalnya senyum Anda yang ramah, pipi Anda yang ranum, atau tubuh Anda yang mungil. Syukurilah karunia-Nya untuk meningkatkan perasaan berharga.
  • Bersahabat dengan orang lain selain dengan TV dan majalah kecantikan atau tabloid. Bersahabat dengan orang lain yang bisa memberikan banyak masukan soal kehidupan dan bisa memberikan banyak pengetahuan baru. Jika sudah ketergantungan menonton TV dan membaca majalah kecantikan, maka informasi yang didapat harus disaring terlebih dahulu. Hanya perhatikan informasi yang sesuai dengan kebutuhan kita. Tetap coba sesekali menjauhkan diri dari TV dan Majalah, Anda dapat mengisi kegiatan tersebut dengan hobi atau minat Anda yang lain.
  • Perlakukan tubuh Anda dengan baik. Ketika tubuh Anda ternyata bukan tubuh yang ideal, bukan berarti tubuh Anda salah sama sekali. Cintailah tubuh Anda, dan perlakukan tubuh sesuai dengan kebutuhan. Penggunaan produk pemutih yang mengikis kulit tentu tidak bijak, jika dibandingkan dengan resiko iritasi yang mengintai. Diperlukan kesembangan dalam membentuk tubuh yang sehat: pemanfaatan waktu proporsional antara bekerja, berolahraga, dan bersantai.
  • Cintailah diri Anda seutuhnya.  Yakinlah bahwa Anda ada karena Anda memiliki sesuatu yang positif untuk diri dan orang lain. Hal ini menjadi kekuatan yang dapat Anda gunakan untuk mengembangkan diri, maupun mengembangkan orang lain. Percantik diri Anda dengan memperkuat di aspek kepribadian lain misalnya kompetensi atau keahlian berbisnis, sifat yang menyenangkan, atau keterampilan menjahit.
  • 6Berikan cinta kepada orang-orang yang Anda sayangi. Mereka adalah penyangga ketika Anda lemah.  Seperti halnya tubuh yang lapar memerlukan makanan, ketika sedang menanggung beban berat kita juga membutuhkan makanan kasih sayang dari orang lain. Peliharalah kasih sayang tersebut dengan baik berupa memberikan perhatian kecil kepada orang-orang yang kita sayangi sesuai dengan kebutuhan mereka. Alangkah indahnya jika Anda menyadari bahwa Anda berada di antara orang-orang yang mengasihi Anda.
  • Manjakan diri Anda. Ketika Anda telah memberikan perhatian dan cinta Anda pada pekerjaan, keluarga, maupun kerabat maka biarkan Anda memanjakan diri selama beberapa jam. Hibur diri Anda melalui spa, salon, luluran, atau kegiatan menyenangkan lain yang dapat menambah penghargaan terhadap diri Anda sendiri.
  • Tubuh selalu berubah mengikuti usia. Kesadaran terhadap perubahan akan membuat Anda lebih siap dengan perbedaan-perbedaan. Pahami tahap-tahap perkembangan yang biasa dialami manusia, dan dimana letak perkembangan Anda saat ini. Dengan demikian, Anda bisa mendapatkan pemahaman menyeluruh tentang hal-hal apa lagi yang akan Anda alami dalam perkembangan hidup, dan melakukan persiapan-persiapan yang diperlukan.